Hmmm… gimana rasanya ya makan sate waktu hujan malam hari turun satu-satu? Aduuuuuhh… enak pasti. Kupanggil abang sate Madura ke depan pintu garasi, kupesan langsung dua porsi. “Satu pakai sambel dan satunya tidak. Okey.”
“Sudah lama bang berjualan?”
“Sudah. Di Jakarta 2 tahun, tapi gak tahan. Banyak premannya!”
“Apa ruginya bang, kan bisa punya teman”
“Rugilah, makan tak bayar, ditagih malah menantang. Mana berani saya, badan kecil kurus begini, perantauan lagi.”
“Heeee… iya ya bang. Tujuannya kan cari uang bukan cari lawan.”
“Di Jogja, aman. Gak ada preman dan gak ada pembagian wilayah, di Jakarta beda. Kita punya wilayah sendiri-sendiri untuk keliling, kalo gak nurut, habis dibabat.”
“Dibayar berapa bang?”
“Bulanan, Rp. 300.000.”
“Haaa…. Cuman segitu?”
“Iyah, tapi bersih… rokok ditanggung bos, kost ditanggung bos, sakit bos yang tanggung juga. Itu bersih.”
“Kerjanya?”
“Berangkat jam 5 sore, pulang jam setengah 10 malam. Habis gak habis pulang! Nih Pak, dua porsi, 14 ribu.”
Kuberikan uang dan sembari berucap salam, aku masuk rumah. “Duuhh… cari uang memang gak gampang, hujan begini nekat jalan mengayuh gerobak kapal dengan payung doang. Gak sakit pa ya?”
Kata orang, setia dengan pekerjaan itu adalah berkah. Tak semua orang bisa mendapatkan kesetiaan itu. Tapi… kalau dia setia mendorong gerobak perahu satenya, kapan kayanya ya? Hmm… harusnya dia setia dengan satenya, tapi dengan tehnik marketing yang baru…. Ada saran?
Bener tuh..
Di jakarta kalo gak punya daerah bisa gawat..
Hmm,, strategi pemasaran baru? Lewat internet mungkin??
Oleh: PeGe on November 13, 2008
at 11:38 am