Wah… rada-rada bingung juga aku memikirkan kasus ini… bener… bingung banget… semoga kalian semua tidak bingung dan punya sikap. Aku sih.. baru akan mengambil sikap setelah aku mengambil jarak dan tidak terlibat secara emosional…
- Bingungnya… apa bener ya yang mereka lakukan adalah jihad yang sebetulnya? Soalnya aku enggak paham sih dengan konsep jihad yang betul…
- Bingungnya… kenapa sih masih ada aja yang membela tindakan pembunuhan yang mereka lakukan?
- Bingungnya… kenapa ya mereka tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun?
- Bingungnya… kenapa ya mereka yakin akan masuk surga dengan tindakannya itu?
- Bingungnya… mereka tahu enggak sih kalau membunuh bagaimanapun dan untuk alasan apapun tetaplah sebuah perbuatan yang ‘dosa’?
- Bingungnya… kenapa sekarang aku jadi takut dan tidak simpati dengan mereka yang berpakaian ala ‘amrozi’ dengan sorban dan jenggot serta celana komprang?
Tapi aku juga kagum..
- Pada mereka para korban BOM BALI yang ditinggalkan keluarganya atau yang menderita cacat permanen.. karena mereka tetap sabar menerima dan tidak secara emosional meluapkan emosinya seperti ‘para pelaku’
- dengan orang – orang di Bali yang tidak emosional dan berpikir logis menerima terror dan kehancuran pariwisata mereka….
Lantas…
- sulitkan kita menerima perbedaan yang ada dan dewasa dengan situasi ‘berbeda’
Ada pendapat?
Menurutku kita tidak perlu berdebat apakah mereka salah atau benar dengan pandangan mereka. Mereka menjadi sperti itu karena kondisi negara ini yang miskin, sehingga mereka dengan mudah dicuci otak. Lebih baik kita memikirkan bagaimana supaya kita menjadi negara yang makmur dan sentosa sehingga tidak lagi dilecehkan pleh negara lain. Bagaimana?
“Mas Ndro ini bijak bangets… setuju mas, tapi banyak yang nggak bisa segampang itu melihat masalah. Karena cita-cita Kartosuwiryo dulu masih ada yang terus melanjutkan…
Oleh: hendro imoet on November 14, 2008
at 8:39 am