Ganti ban 2 kali bukan hal yang lumrah untuk perjalanan yang hanya 45 menit…. Perjalanan dari Solo ke Wonogiri bukan hal yang istimewa untukku, tapi kali ini perjalanan ini jadi terasa istimewa. Sejak awal berangkat, aku merasa sudah ada yang enggak beres dengan sepeda motorku. Pesen bapak memang harus didengerin sungguh-sungguh. “Bannya agak kempes, ditambahi!” Tapi ngeloyor aku berangkat dengan my best friend Romi (die orang Bengkulu lo…) tenang-tenang penuh bahagia. 20 menit pertama perjalanan terasa menyenangkan melewati bentangan sawah yang hijau menguning, dengan puluhan punggung petani yang membungkuk membersihkan sawah dari gulma. Wah, baru kali ini aku melihat puluhan punggung dengan warna-warni berbeda-beda dengan senda gurau khas petani. AH…. Barangkali kalian juga belum pernah melihatnya khan?
Melewati kota Wonogiri semua masih ok, but… immediately.. ban belakangku gembos. Jam 17.30 kota Wonogiri sudah mulai istirahat. Kucari tukang ban, but I didn’t find it. Semua kios sudah tutup, but thanks to God, there was old man, menunjukkan tempat yang tepat untuk menambal ban. Dan meskipun harus menunggu 30 menit (yang punya toko harus pergi.. sebentar katanya.. tapi 30 menit????) akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Lega rasanya.
30 menit kemudian, 18.15 kami harus susah payah menemukan rumah sepupu. Ini bukan kali pertama aku ke sini, tapi jalan yang ditutup untuk hajatan memaksaku harus putar-putar 30 menit sebelum sampai akhirnya sampai. Wah… ini namanya kesasar, gara-gara liwat kuburan enggak permisi dan membunyikan klakson. Sudah cukup kesialan kami sore ini? Belum. Kami berbincang tidak lama, hanya 2 jam dan niat kami sampai di Sukoharjo jam 21.00 tidak tercapai. Kembali aku harus mendorong sepeda motorku melewati sawah-sawah dan perkampungan dengan jalan berbatu dan naik turun sambil mengawasi keadaan sekitar kalau-kalau ada ular yang nyelonong lewat. Sudah gelap, keringatan, capek, pakar pula tanpa kepastian ada tukang tambal ban. Wah.. kalau harus memilih duduk di teras sambil ngopi atau mendorong motor, aku memilih yang pertama.
Syukur, setelah mendorong setengah jam, ketemu juga si tukang tambal ban. Dengan ramah ciri khas dan keistimewaan petani, kami diterima dengan ketiga pintu bagian rumah terbuka. Nasib sial kini digantikan dengan rasa syukur; segelas the hangat dan tape goreng dihidangkan di depan kami. “Monggo mas, dicicipi. Kebetulan kami baru menggoreng tape. Mari.” Thanks God, perut yang keroncongan kini sedikit terisi dengan teh dan tape. Lebih asyik lagi dinikmati sambil menikmati acara Republik Mimpi di Metro TV. Nah, ini dia, Si Butet orang Yogya (SBY) sedang dimintai keterangan persnya oleh news.com sehubungan issue “nikah’ sebelum masuk AKABRI.
Acara ini menggelitik dan vulgar ‘menurutku’. So far, tidak ada hal yang serius yang dibicarakan. Tapi, komentar-komentar yang disampaikan Gur Pur dan Kusno si oposan serta jawaban Jarwo Kuat si Wapres cukup menusuk. Gus Pur bilang, “Lha masalah begitu saja kok repot. Wong yang diangkat DPR soal IPDN yang jelas dengan tiga opsi saja tidak terdengar ini yang hanya soal ‘dikatakan’ kawin sebelum masuk AKBRI kok didengarkan. Apa nggak ada masalah lain apa?” Lha iya juga, ternyata, masalah pribadi itu menjadi sangat penting dan sangat sensitif untuk segera ditanggapi ketimbang masalah lain yang real dihadapi orang banyak.
However, kita memang cenderung egois. Soal ‘harga diri’ yang terinjak-injak itu seringkali menjadi perhatian yang utama dan bahkan mengalahkan pertimbangan-pertimbangan akal sehat tentang hal lain yang lebih penting dan urgent. Contohnya seperti di atas. Juga contoh Jarwo Kuat yang menyanggah kalau SI Butet orang Yogya tidak memperhatikan orang pinggiran. “Tidak betul itu, Bapak Si Butet orang Yogya memperhatikan mereka.” (lalu ditayangkan cuplikan Hari Anak Nasional ala Republik Mimpi) Bahkan Pak Effendi memberi jawaban yang diplomatis soal fitnah pada presiden Republik Mimpi. “Pak Presiden menyerahkan pengusutan kepada polisi, karena masih banyak masalah-masalah lain yang butuh penyelesaian dengan segera ketimbang masalah yang pribadi ini!” Tapi tetap saja, Pak Effendi bukan SI Butet orang Yogya, jadi tetap saja SI Butet orang Yogya menjawab dengan lantang “Itu fitnah! Itu fitnah namanya! Untuk masuk AKABRI itu tidak gambang, ada banyak persyaratannya, salah satunya ya itu: tidak sedang kawin!”
Kami tidak sempat menyelesaikan acara ini, sepeda motor kami sudah siap. Ternyata ada 8 lubang lebih!!!!!!!!!!!!!!!! Pak Tambal bilang, “Ini saya ganti dengan ban second (Ban BS katanya, tadinya aku gak ngerti BS itu apa?)” Kurogoh saku, kuberikan upah atas kerjanya, tapi ia mengembalikan dan hanya mengambil Rp. 10.000,00. Aku kaget, 2 jam memperbaiki sepeda motorku itu bukan waktu yang pendek. Dan 2 jam ia hargai hanya Rp. 10.000,00 dengan pengandaian teh dan tape goreng gratis (inilah orang Jawa: enggak bisa menghargai hasil kerja mereka, hanya modal materi saja yang dihitung, tenaga tidak!) Tidak bisa saya bayangkan, di saat-saat seperti ini, saat orang butuh uang, mereka di desa masih menjunjung tinggi semangat belas kasih, toleransi, tolong-menolong dengan tidak mau mengambil lebih dari hak mereka. “Sudah mas, ini sudah cukup. Saya sudah senang bisa menolong sampeyan supaya bisa sampai di rumah dengan selamat.” Hah? Jangankan di Jakarta, di Jogja saja belum pernah kutemui orang seperti dia. Hari ini, aku menemukan lagi satu malaikatku yang lain.
Saya yakin, menemukan orang seperti bapak ini adalah sebuah keajaiban. Di saat yang menguntungkan, ia bisa saja mengambil lebih dari hak yang bisa dia dapatkan. Tapi itu tidak dilakukannya. Ia mengambil untung tidak lebih dari yang seharusnya. Tidak kurang dan tidak lebih. Jika kurang ia tahu batas kekurangannya, jika cukup untuk modal dan keuntungan, ia tidak akan mengambil lebih dari yang seharusnya. Tapi, beda kalau ketemu Pak Polisi di jalan… hukumnya jadi seperti hukum ekonomi. Tangkap sebanyak-banyaknya untuk hasil yang lebih banyak. Atau para politikus kita. Mumpung ada kesempatan, gali emas dalam-dalam. Kata orang ini ‘aji mumpung’ dan bagi saya ‘mereka adalah orang jahat,dan anak kecilpun tahu kalau orang jahat akan menuai hasil kejahatannya. Masalahnya, banyak orang jahat menuai bukan pada saat panenan, masih hijau (padi) sudah dipanen dan dijual ijon. Jadi sebelum dipanen orang lain, ‘panen dulu ah’!