Oleh: lorensius | Juli 28, 2007

Ma… aku boleh mulai pacaran?

Terus terang saja sudah sejak lama saya ingin membaca dengan tekun majalah-majalah “for the youngsters”. Mulai dari Hai, Majalah cerpen ANITA, Majalah Kawanku yang berubah rupa dengan luar biasa, dan beberapa majalah lain yang terlupakan. Dan karena tidak pernah menyempatkan diri jadilah saya orang kuper yang enggak tahu apa-apa tentang dunia anak muda. Dan sekarang, ketika saya membuka beberapa majalah semacam itu, setelah sekian lama berevolusi, saya terkagum-kagum dengan kreatifitas anak muda yang luar biasa. Apalagi dunia sinetron kita yang menjual mimpi. Terkagum-kagum dengan ide-ide luar biasa yang menerbangkan setiap orang ke alam mimpi. Menerbangkan usia belasan tahun ke dunia orang dewasa dengan gaya hidup yang ‘totally changed’ di usia belasan. Lebih tepatnya ‘prihatin’ dengan ‘life style’ yang berubah karena ‘gambar-gambar’ dan pecahan ‘deskripsi’ hidup yang diciptakan di dunia sinetron. Jengah melihat dunia sinetron kita yang membuai ‘manusia-manusia’ berbeban berat dengan mimpi yang suatu hari ‘mungkin datang’. Tapi satu hal yang paling saya benci akhir-akhir ini.

Jengah karena tema cinta dan asmara dieksploitasi untuk anak-anak yang masih belasan. Lihatlah sekarang dunia sinetron kita: adakah cerita yang tidak dibungkus dengan drama cinta anak SMP atau SMA? Apa yang diributkan? Selalu soal asmara monyet yang tidak lebih penting daripada hidup sosial sekolah. Asmara yang diperjuangkan meski harus mengorbankan identitas diri menjadi orang lain, entah sopir, entah jadi perempuan atau jadi laki-laki, entah jadi teman bermain yang baik, entah jadi teman sekolah… Bahkan anak SD pun dijadikan objek asmara dengan menonjolkan persaingan dan perebutan. Apa ini? Sebuah pembelajaran tentang arti perjuangan cinta?

Lima tahun lalu, saya tidak pernah melihat anak-anak sekolah dengan enaknya berlenggang bergandengan tangan di depan ruang guru atau di jalan umum, tetapi sekarang… tidak pernah saya lihat mereka berani bereksploitasi dengan seksualitas mereka, tapi sekarang, dengan alasan mode, mereka berani melakukannya.

Terkadang saya berpikir ‘apakah asmara anak-anak SD dan SMP’ jadi bahan lucu-lucuan? Saya bisa tersenyum dan bahkan tertawa jika harus melihat anak-anak kecil memakai baju prom nite untuk ‘kencan’. Berdandan untuk bertemu gurunya. Cemburu untuk gurunya.

Ini cetakan untuk generasi 20 tahun mendatang? Jika benar, mari kita berharap cetakan itu rusak. Bravo untuk yang setuju dengan globalisasi tak berbentuk…

 

Betapapun, kita harus berpikir tentang pendidikan. Pendidikan adalah soal bagaimana memanusiakan manusia. Konstruksi dan definisi “manusia yang seutuhnya” adalah yang harus kita ubah. Dan nilai-nilai itulah yang perlu diinternalisasikan ke setiap otak dan hati manusia-manusia Indonesia. Dan menurut saya, sinetron-sinetron yang saya gambarakan di atas tidak cukup tepat untuk mengkomunikasikan nilai-nilai tersebut secara efektif.

Afterall, kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri. Jika sinetron-sinetron itu sukses dengan rating, hendaklah itu bisa memberi manfaat buat orang lain dan lingkungannya.

Ada yang bisa merasakan manfaatnya? Hipotesis sementara saya, pendidikan informal (dalam hal ini keluarga) masih jadi unsur terpenting untuk membentuk pribadi yang unggulan selama pemerintah belum mampu membangun sistem pendidikan yang benar-benar mumpuni. Keluarga jugalah yang jadi benteng melawan budaya instan dan pengaruh negatif lingkungan. Pengaruh 18.00-21.00 yang jauh lebih kuat daripada masa studi 7.00-13.00. Jam-jam rawan itulah yang menjadi salah satu faktor yang mendistorsi kualitas mereka sebenarnya.

 


Tanggapan

  1. kirain tadi manggil Ma lho,, :lol:

    sebenernya kalo masalah suka-nya menurut Ma bisa kena di umur berapa juga,, tapi cara menyikapinya aja,,

    kalo masalah pacarannya,, menurut Ma salah satu yang bikin Ma bangga itu kalo kita memaklumi dan mengetahui kalo perasaan suka itu lumrah dan fitrah dan wajar, ga menutup diri buat itu, tapi kita bisa memegang prinsip kita,, (oke,, klise, tapi bisa jadi doa!)

  2. *liat komen di atas*
    walaah, itu kepanggil kemari karena judul ya Ma? :lol:

    Kalau diliat, tontonan memang punya pengaruh yang lumayan ke penonton. Dan memang ada yang buat penelitian kan, bahwa salah satu hal yang menjadikan gaya hidup remaja sampai kaya gitu, karena pengaruh tontonan, terlebih lagi tema-tema yang diangkat gak pernah jauh-jauh dari seperti yang disebutkan di artikel.

    Dan benar, keluarga punya peranan penting dalam hal ini.


    tq jejakpena, kita emang belajar dari yang kita lihat. Biar kita enggak mau, tapi alam bawah sadar kita ‘memaksa’ kita belajar dari yang kita lihat. ‘If we see something, we learn to do something’

  3. memang setantron itu kasih pengaruh yang buruk buat penonton….. Dan sebaiknya kalo punya anak jangan dibiasain nonton tipi lokal…..

    @yes… masalahnya sekarang klo gak nonton tipi lokal, kami yang di desa enggak bisa nonton tipi dong. Lha TansTV aja kabur-kabur…

  4. Yupz.., bnr bgt..
    Sebuah tontonan itu bnr2 mempengaruhi bgt..
    Apalagi skrg yg plng populer itu adegan cinta nak remaja yg disajikan dlm bntk FTV..
    Hal ini yg membuat para penonton khususnya remaja ikut2n sesuai tayangan itu..
    Klo sisi positifnya c boleh2 z, tp klo negatifnya?!
    Apa kata dunia?!?
    Gue plng ga setuju klo nak2 kcl memerankan adegan pacaran..
    Uh.., ga bgt dhe..
    Capcay dhe..
    Apa ga ada tayangan yg lbh bgs lg apa?


Beri tanggapan

Your response:

Kategori