Posted by: lorensius | Februari 22, 2008

Ketemu orang penting…

Yah… baru kali ini aku ketemu dengan orang penting yang enggak pernah kukira sebelumnya. Yah sebenarnya aku tahu kalau ia memang orang penting di perusahaannya, dan punya jabatan yang memang terhormat. Tapi…. aku gak ngira aja kalau akhirnya aku bisa ketemu dengan dia….

Yah…..

Posted by: lorensius | Oktober 20, 2007

Just .. think about these…

Pertanyaan: KENAPA AYAM MENYEBERANG JALAN?????

 

Jawaban dari :

 

* Guru TK : supaya sampai ke ujung jalan

* PLATO : untuk mencari kebaikan yang lebih baik

* POPE : hanya Tuhan yang tahu

* POLISI : beri saya lima menit dengan ayam itu, saya akan tahu kenapa

* ARISTOTELES : karena merupakan sifat alami dari ayam

* KAPTEN JAMES T.KIRK (star trek) : karena dia ingin pergi ke tempat yang belum pernah ia datangi

* MARTIN LUTHER KING, JR : saya memimpikan suatu dunia yang membebaskan semua ayam menyebrang jalan tanpa mempertanyakan kenapa

* MACHIAVELLI : poin pentingnya adalah ayam menyebrang jalan! siapa yang peduli kenapa! akhir dari penyebrangan akan menentukan motivasi ayam itu

* FREUD : fakta bahwa kalian semua begitu peduli pada alasan ayam itu menunjukkan ketidaknyaman seksual kalian yang tersembunyi

* GEORGE W.BUSH : kami tidak peduli kenapa ayam itu menyeberang! kami cuma ingin tau apakah ayam itu ada di pihak kami atau tidak, apa dia bersama kami atau melawan kami. tidak ada pihak tengah di sini!

* DARWIN : ayam telah melalui periode waktu yang luar biasa, telah melalui seleksi alam dengan cara tertentu dan secara alami tereliminasi dengan menyeberang jalan.

* EINSTEIN : Apakah ayam itu meyebrang jalan atau jalan yang bergerak dibawah ayam itu, itu semua tergantung pada sudut pandang kita sendiri


* NELSON MANDELA : Tidak akan pernah lagi ayam ditanyai kenapa menyebrang jalan! dia adalah panutan yang akan saya bela sampai mati

* THABO MBEKI : kita harus mencari tau apakah memang benar ada kolerasi antara ayam dan jalan

* MUGABE : Setelah sekian lama jalan dikuasai petani kulit putih, ayam miskin yang tertindas telah menanti terlalu lama agar jalan itu diberikan kepadanya dan sekarang dia menyebranginya dengan dorongan ayam2 veteran perang. Kami bertekad mengambil alih jalan tersebut dan memberikannya pada ayam, sehingga dia bisa menyebranginya tanpa ketakutan yang diberikan oleh pemerintahan inggris yang berjanji akan mereformasi jalan itu. Kami tidak akan berhenti sampai ayam yang tidak punya jalan itu punya jalan untuk diseberangi dan punya kemerdekaan untuk menyeberanginya!

* SIR ISAAC NEWTON : Semua ayam di bumi ini kan menyebrang jalan secara tegak lurus dalam garis lurus yang tidak terbatas dalam kecepatan yang seragam, terkecuali jika ayam berhenti karena ada reaksi yang tidak seimbang dari arah berlawanan.

* MENTERI KEBUDAYAAN MALAYSIA : Kotek .. kotek .. kotek … kotek … itu lagu kami !!!

 

Posted by: lorensius | Oktober 10, 2007

Bekas import…

Berjalan-jalan di Jalan Bhayangkara Yogyakarta, Jalan Parangtritis, Jalan Ibu Ruswo.. saya heran banget. Banget… Banyak banget orang yang beli pakaian menjelang lebaran. Oke, koneksinya bukan dengan Lebarannya lho… tapi koneksi tulisan ini soal “bekas import”. Sejak dulu hingga sekarang saya sendiri heran. Kenapa Indonesia ini lebih suka yang import-import. Lebih suka yang mahal-mahal ketimbang yang murah meriah padahal kemampuan ekonomi negara kita lemah. Herannya lagi, banyak juga mahasiswa Jogja yang beli pakaian bekas import!!!!!  Gak ngerti saya. Kenapa sih semangat kebangsaan kita menurun.. Kenapa semangat kecintaan pada produksi dalam negeri nol? Baju import apa bedanya sih dengan produksi Bandung atau Solo? Kenapa lebih suka yang Singapura?  Tulisan ini baru pengantar, kita lanjutkan esok…

Posted by: lorensius | September 28, 2007

Jilbab…

Saya punya berita… silakan jika Anda ingin menanggapinya…

Sejak 2002, hampir semua 19 kabupaten dan kota di Propinsi Sumatra Barat telah memberlakukan   Peraturan Daerah (Perda) atau instruksi walikota dan bupati yang menetapkan busana Muslim bagi para pelajar Muslim.Kabupaten Solok, misalnya, mengeluarkan Perda No. 6/2002. Sementara itu, Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Sawahlunto Sijunjung dan Kabupaten Agam masing-masing memiliki Perda No. 58/2003, Perda No.2/2003, dan Perda No. 6/2005.

Walikota Padang Fauzi Bahar mengeluarkan sebuah instruksi yang mewajibkan semua pelajar Muslim dari sekolah dasar hingga sekolah menengah umum untuk memakai busana Muslim.

Para siswi non-Muslim di sekolah-sekolah negeri mendapati diri mereka dalam sebuah situasi yang sulit, katanya kepada UCA News. Mereka ingin memilih sekolah swasta yang dikelola Protestan atau Katolik yang tidak memberlakukan peraturan pemakaian jilbab,
namun sekolah-sekolah ini tidak ada di kabupaten atau kota itu.?

Pusat Studi Antar-Komunitas (PUSAKA) di Padang melakukan sebuah survei pada April-Oktober 2006 di kalangan para siswi non-Muslim di enam kabupaten dan kota yang berpenduduk mencakup Muslim dan umat beragama lain. Survei ini mengungkap bahwa meskipun Perda tentang wajib berbusana Muslim diterapkan hanya untuk pelajar Muslim, tapi kenyataannya setiap pelajar wajib memakai busana Muslim.

Seorang responden adalah Nova Hungliot Simarmata, siswi beragama Katolik dari SMU Negeri II di Kabupaten Pesisir Selatan. Ia menjelaskan bahwa sekolahnya mulai mewajibkan para pelajar untuk memakai busana Muslim tahun 2005.

Memakai jilbab membuat dia tidak nyaman. “Bagaimana rasanya, seorang Katolik seperti saya harus mengenakan jilbab, yang merupakan ciri khas Islam itu? Tapi saya tidak punya pilihan. Saya harus patuh dengan peraturan sekolah.”

Survei itu melaporkan bahwa Nova dan orangtuanya awalnya tidak mematuhi peraturan tersebut, tapi seorang guru sering mendesak Nova untuk memakai jilbab. “Apa salahnya mengikuti peraturan yang ditetapkan pemerintah?” kata guru itu.

Pertama kali memakai jilbab, saya merasa sangat risih sebab pakaian ini rasanya asing bagi saya” kata Nova. Masyarakat umumnya berpandangan bahwa dengan memakai pakaian model itu saya dianggap beragama Islam.?

Menurut Nelty Anggraini, seorang peneliti beragama Islam dari PUSAKA, laporan survei itu mengungkap bahwa Perda tentang wajib busana Muslim tidak menjamin hak-hak kelompok minoritas.  “Para pelajar non-Muslim, yang jumlahnya sangat kecil, tidak memiliki daya untuk tidak patuh. Demi alasan supaya seragam, terpaksa mereka mematuhi peraturan itu,” katanya kepada UCA News. -END-

Posted by: lorensius | Agustus 22, 2007

Kangennnnnn……bingung………

Wah rasanya terlalu lama kutinggalkan blog untuk kesibukanku. But, today, I’m back. Yes…. lama sudah aku berkeliling minggu ini dengan hal-hal baru dalam kehidupanku. Aku mengumpulkan serpihan peristiwa yang kujalin menjadi satu dalam perjalanan hidupku. Kuyakin semua mempunyai arti….

Oh ya…

kemarin aku bingung banget, mau beli motor tapi bingung mau pilih mana. Maunya sih ViXion-nya YAMAHA tapi indentnya gila! 3 bulan, mana tahan? Tapi pingin banget…. nggak nahan…  pilihan lainnya MegaPro-nya HONDA. Mau yang mana ya?

Bingung juga…. mau cash atau kredit ya? Bingung…. tapi gimanapun terlalu lama gak punya motor juga repot. Mau pergi naik apa nanti?

Posted by: lorensius | Juli 31, 2007

Toleransi Beragama…

Masalah agama memang menjadi roti empuk yang selalu bisa dijadikan alat untuk menggerakkan massa. Suatu hari, aku membaca naskah opini menarik berjudul Kemajemukan Minus Toleransi yang ditulis oleh Achmad Munjid
Kandidat Doktor Bidang Religious Studies, Temple University, Philadelphia, USA. Karena bagus, memperkaya, sekaligus memberi informasi yang baik, kucuplik aja. Swear, tanpa maksud aa-apa, kuambil lengkap tulisan ini. Maaf ya Pak Munjid kalo aku ambil tanpa ijin. Tapi, karena ini dipublikasikan terbuka, kuangkat juga di blog ini. Lengkapnya seperti ini:

“Penggerudukan terhadap Lembah Karmel di Cianjur, Jawa Barat, oleh sejumlah kelompok umat Islam beberapa hari lalu (Tempo Interaktif, 20 Juli) telah memaksa Komunitas Tritunggal Mahakudus mengurungkan konferensi internasionalbertajuk “Kobarkan Api Kristus”, yang hendak mereka gelar pada 24-29 Juli 2007. Bagi saya, peristiwa ini adalah alamat buruk tentang kian pudarnya toleransi di tengah masyarakat kita. Sekaligus, ini adalah ancaman serius terhadap pluralitas kehidupan sosial kita yang mendesak untuk diatasi. Betapapun, peristiwa Lembah Karmel tersebut adalah cermin dari watak pasang-surut hubungan antarkomunitas agama, terutama muslim-Kristen, di Tanah Air yang dipengaruhi macam-macam faktor. Karenanya, faktor-faktor itu, berikut kaitannya satu sama lain, perlu dikenali dengan
cermat jika antagonisme antarpemeluk agama hendak dihindari. Dalam kasus Lembah Karmel, sekurangnya empat faktor berikut perlu diperhatikan.

Peristiwa Lembah Karmel

Pertama, corak keberagamaan. Kita tahu, bersama Banten, Garut, Tasikmalaya dan beberapa wilayah lain, Cianjur adalah daerah yang memberlakukan peraturan daerah syariah. Penelitian International Center for Islam and Pluralism atas 20 pesantren di 10 kabupaten pada 2005 lalu mengungkapkan bahwa umat Islam di sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Cianjur, memang memiliki corak keberagamaan yang cenderung normatif atau formal. Ini sekaligus sedikit menjelaskan
mengapa dulu gerakan Darul Islam berhasil membangun kantong-kantong kekuatan di sana.

Perlu ditegaskan, kenormatifan atau formalisme keberagamaan ini bukanlah kesimpulan yang bisa digeneralisasi untuk menilai sebagian besar muslim Jawa Barat, bahkan Cianjur. Ia juga bukanlah merupakan watak kultural yang secara historis diandaikan tidak berubah. Poin saya: laku kerasnya perda syariah di banyak wilayah Jawa Barat tentu
mengucapkan adanya kebenaran tentang kuatnya kecenderungan formalisme agama di sana. Ini perlu disadari jika pergaulan sosial yang menyangkut aspek agama hendak dikembangkan secara konstruktif.

Kedua, faktor permainan politik. Yang lebih peka menangkap kecenderungan tersebut biasanya justru kaum politikus. Sebab, formalisasi agama memang empuk sebagai komoditas politik. Tapi jelas pula, di tengah kemajemukan masyarakat kita, ia sungguh amat rentan memicu konflik. Di Cianjur, komitmen pada perda syariah yang kemudian dirumuskan sebagai Gerakan Pembangunan Masyarakat Berakhlakul Karimah (Gerbang Marhamah) telah mengangkat sekaligus menyingkirkan Wasidi Swastomo sebagai bupati (periode 2001-2006). Alih-alih meraup dukungan dari semua golongan, akibat mengeluarkan izin perluasan Lembah Karmel pada semester terakhir masa jabatannya, oleh kalangan muslim pendukungnya ia justru dianggap telah mengkhianati komitmennya pada proyek Gerbang Marhamah. Akibatnya, ia
tak hanya gagal meraih kursi bupati periode berikutnya, hubungan muslim-Kristen di Cianjur pun memburuk. Penggerudukan terhadap lokasi wisata ziarah keagamaan itulah buktinya.

Ketiga, kekurangpekaan para pemimpin agama. Dalam kasus Lembah Karmel, bisa jadi sejumlah unsur berikut ini telah membentuk kombinasi khas yang bersifat kebetulan: kegersangan batin kalangan menengah-atas (segmen utama pengunjung Lembah Karmel), tawaran penyembuhan dan pesona kehidupan rohani komunitas Katolik beraliran
Karismatik itu, latar etnis pendiri utama komunitas Tritunggal Mahakudus, serta lingkungan asri berhawa sejuk pegunungan. Semua itu mendukung terbentuknya Lembah Karmel sebagai oasis spiritual orang-orang kaya dan “istana pertapaan” yang hampir ideal.

Namun, bukankah di tengah dusun-dusun berpenduduk mayoritas muslim yang rata-rata miskin, arsitektur khas Kristen yang berdiri megah di area puluhan hektare dan hilir-mudik kendaraan mewah para pengunjungnya sangat potensial menyulut kecemburuan? Tentu masyarakat sekitar bukan tidak diuntungkan secara ekonomi. Tapi, jika faktor
kecemburuan ini dibiarkan, ia menjadi bara dalam sekam yang dengan mudah terus membesar.

Hal yang sama juga terjadi ketika dilakukan entah oleh pihak muslim ataupun kelompok lain. Islamic Center di Manokwari, yang menyulut pengibaran bendera Kota Injil beberapa waktu lalu, adalah contohnya. Lagi pula, di tengah kubangan kemiskinan sebagian besar umat, mengapa kita harus begitu mementingkan pembangunan “istana peribadatan” yang
kelewat megah? Bukankah Yesus Kristus dan Nabi Muhammad justru hidup dan mati dalam keadaan miskin?

Dalam kehidupan sosial yang serba sulit seperti sekarang ini, kita membutuhkan lebih banyak pemimpin agama yang memiliki kepekaan sosial, baik dalam kaitannya dengan kenyataan internal umat sendiri maupun dalam hubungan dengan komunitas lain.

Keempat, kurangnya komunikasi terbuka antarkomunitas. Kejadian Lembah Karmel sekaligus memperlihatkan betapa komunikasi antarkomunitas yang berlangsung selama ini bersifat amat terbatas, sebatas permukaan, semu, dan karenanya sama sekali tidak memadai. Akibatnya, kecurigaanlah yang lebih menjadi mekanisme relasi antarkelompok. Dalam situasi demikian, informasi tentang pihak lain sering kali beredar secara sepotong-sepotong, manipulatif, salah, dan menyesatkan. Pihak-pihak yang berbeda saling berbicara baru ketika timbul soal untuk dipercekcokkan.

Saya hampir yakin, ratusan orang yang menggeruduk Lembah Karmel itu digerakkan terutama oleh informasi yang menyesatkan atau kabar yang sengaja digemparkan buat menyulut bara ketegangan yang sudah lama
tersimpan. Lebih celaka lagi, akibat deraan krisis yang berkepanjangan, kini bermunculan kelompok-kelompok agama yang sibuk mencari dalil demi mengumbar kemarahan dan menebar kebencian atas siapa saja yang bisa ditaklukkan.

Toleransi dan dialog

Mari kita akui sekarang bahwa bahkan syarat minimal terpeliharanya masyarakat yang plural pun ternyata kini tidak kita punyai: toleransi. Toleransi yang dimaksud di sini adalah apa yang disebut John Rawls (1987: 12) sebagai “metode pengelakan” (method of avoidance) bersisi ganda. Yakni, mengelak dari pemaksaan keyakinan sendiri atas orang lain dan tidak menolak orang lain memeluk dan mempraktekkan keyakinan mereka.

Padahal toleransi ini saja tidak cukup untuk menyelenggarakan kehidupan masyarakat plural yang demokratis. Agar toleransi tidak berubah menjadi sarana alienasi, ia harus disertai pergumulan kritis (critical engagement) setiap pihak dalam rangka membentuk dunia bersama yang terbaik. Untuk itu, kita butuh dialog terbuka yang
bertumpu pada solidaritas intelektual dan sosial sekaligus (David Hollenbach, 1998: 13-5).

Solidaritas intelektual adalah kehendak yang sungguh-sungguh dan adil dalam memperlakukan kehadiran pihak lain, termasuk dalam berdebat. Sedangkan solidaritas sosial adalah kehendak tulus untuk menerima pihak lain sebagai sesama warga berikut hak-hak dan kewajiban yang harus dipelihara.

Dalam kaitan inilah sesungguhnya kita amat membutuhkan komunikasi dan dialog antaragama, baik di kalangan para pemimpin maupun kaum awam. Bagi bangsa yang tengah terseok akibat lilitan rupa-rupa persoalan,
dialog agama yang kita perlukan bukan terutama percaturan, apalagi perbantahan, teologis dan filosofis, melainkan dialog yang dalam istilah Paul F. Knitter (1995:17) bersifat soteriocentric. Yakni dialog, baik verbal maupun sosial, yang terutama bertujuan mengatasi pelbagai persoalan kemanusiaan yang menjadi tanggung jawab bersama setiap komunitas agama, seperti kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, kesenjangan ekonomi, pelanggaran hak asasi manusia, ketimpangan sosial dan gender, kerusakan lingkungan, serta perdagangan manusia dan lain-lain.

Dengan bersama-sama menggarap isu nyata bersama itulah kita akan mampu menerjemahkan hakikat nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial. Kehadiran dan perjumpaan dengan pihak lain bukan saja tidak menjadi ancaman, tapi menjadi anugerah yang wajib disyukuri sepenuh hati dalam proses indah mendendangkan lagu kebenaran.”

Saya sendiri belum memberi komentar tentang tulisan ini, kayaknya menarik sekali untuk diangkat dalam sebuah diskusi. Gimana pendapat kalian?

Posted by: lorensius | Juli 31, 2007

Sudah mas, ini sudah cukup……

Ganti ban 2 kali bukan hal yang lumrah untuk perjalanan yang hanya 45 menit…. Perjalanan dari Solo ke Wonogiri bukan hal yang istimewa untukku, tapi kali ini perjalanan ini jadi terasa istimewa. Sejak awal berangkat, aku merasa sudah ada yang enggak beres dengan sepeda motorku. Pesen bapak memang harus didengerin sungguh-sungguh. “Bannya agak kempes, ditambahi!” Tapi ngeloyor aku berangkat dengan my best friend Romi (die orang Bengkulu lo…) tenang-tenang penuh bahagia. 20 menit pertama perjalanan terasa menyenangkan melewati bentangan sawah yang hijau menguning, dengan puluhan punggung petani yang membungkuk membersihkan sawah dari gulma. Wah, baru kali ini aku melihat puluhan punggung dengan warna-warni berbeda-beda dengan senda gurau khas petani. AH…. Barangkali kalian juga belum pernah melihatnya khan?

 

Melewati kota Wonogiri semua masih ok, but… immediately.. ban belakangku gembos. Jam 17.30 kota Wonogiri sudah mulai istirahat. Kucari tukang ban, but I didn’t find it. Semua kios sudah tutup, but thanks to God, there was old man, menunjukkan tempat yang tepat untuk menambal ban. Dan meskipun harus menunggu 30 menit (yang punya toko harus pergi.. sebentar katanya.. tapi 30 menit????) akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Lega rasanya.

 

30 menit kemudian, 18.15 kami harus susah payah menemukan rumah sepupu. Ini bukan kali pertama aku ke sini, tapi jalan yang ditutup untuk hajatan memaksaku harus putar-putar 30 menit sebelum sampai akhirnya sampai. Wah… ini namanya kesasar, gara-gara liwat kuburan enggak permisi dan membunyikan klakson. Sudah cukup kesialan kami sore ini? Belum. Kami berbincang tidak lama, hanya 2 jam dan niat kami sampai di Sukoharjo jam 21.00 tidak tercapai. Kembali aku harus mendorong sepeda motorku melewati sawah-sawah dan perkampungan dengan jalan berbatu dan naik turun sambil mengawasi keadaan sekitar kalau-kalau ada ular yang nyelonong lewat. Sudah gelap, keringatan, capek, pakar pula tanpa kepastian ada tukang tambal ban. Wah.. kalau harus memilih duduk di teras sambil ngopi atau mendorong motor, aku memilih yang pertama.

 

Syukur, setelah mendorong setengah jam, ketemu juga si tukang tambal ban. Dengan ramah ciri khas dan keistimewaan petani, kami diterima dengan ketiga pintu bagian rumah terbuka. Nasib sial kini digantikan dengan rasa syukur; segelas the hangat dan tape goreng dihidangkan di depan kami. “Monggo mas, dicicipi. Kebetulan kami baru menggoreng tape. Mari.” Thanks God, perut yang keroncongan kini sedikit terisi dengan teh dan tape. Lebih asyik lagi dinikmati sambil menikmati acara Republik Mimpi di Metro TV. Nah, ini dia, Si Butet orang Yogya (SBY) sedang dimintai keterangan persnya oleh news.com sehubungan issue “nikah’ sebelum masuk AKABRI.

 

Acara ini menggelitik dan vulgar ‘menurutku’. So far, tidak ada hal yang serius yang dibicarakan. Tapi, komentar-komentar yang disampaikan Gur Pur dan Kusno si oposan serta jawaban Jarwo Kuat si Wapres cukup menusuk. Gus Pur bilang, “Lha masalah begitu saja kok repot. Wong yang diangkat DPR soal IPDN yang jelas dengan tiga opsi saja tidak terdengar ini yang hanya soal ‘dikatakan’ kawin sebelum masuk AKBRI kok didengarkan. Apa nggak ada masalah lain apa?” Lha iya juga, ternyata, masalah pribadi itu menjadi sangat penting dan sangat sensitif untuk segera ditanggapi ketimbang masalah lain yang real dihadapi orang banyak.

 

However, kita memang cenderung egois. Soal ‘harga diri’ yang terinjak-injak itu seringkali menjadi perhatian yang utama dan bahkan mengalahkan pertimbangan-pertimbangan akal sehat tentang hal lain yang lebih penting dan urgent. Contohnya seperti di atas. Juga contoh Jarwo Kuat yang menyanggah kalau SI Butet orang Yogya tidak memperhatikan orang pinggiran. “Tidak betul itu, Bapak Si Butet orang Yogya memperhatikan mereka.” (lalu ditayangkan cuplikan Hari Anak Nasional ala Republik Mimpi) Bahkan Pak Effendi memberi jawaban yang diplomatis soal fitnah pada presiden Republik Mimpi. “Pak Presiden menyerahkan pengusutan kepada polisi, karena masih banyak masalah-masalah lain yang butuh penyelesaian dengan segera ketimbang masalah yang pribadi ini!” Tapi tetap saja, Pak Effendi bukan SI Butet orang Yogya, jadi tetap saja SI Butet orang Yogya menjawab dengan lantang “Itu fitnah! Itu fitnah namanya! Untuk masuk AKABRI itu tidak gambang, ada banyak persyaratannya, salah satunya ya itu: tidak sedang kawin!”

 

Kami tidak sempat menyelesaikan acara ini, sepeda motor kami sudah siap. Ternyata ada 8 lubang lebih!!!!!!!!!!!!!!!! Pak Tambal bilang, “Ini saya ganti dengan ban second (Ban BS katanya, tadinya aku gak ngerti BS itu apa?)” Kurogoh saku, kuberikan upah atas kerjanya, tapi ia mengembalikan dan hanya mengambil Rp. 10.000,00. Aku kaget, 2 jam memperbaiki sepeda motorku itu bukan waktu yang pendek. Dan 2 jam ia hargai hanya Rp. 10.000,00 dengan pengandaian teh dan tape goreng gratis (inilah orang Jawa: enggak bisa menghargai hasil kerja mereka, hanya modal materi saja yang dihitung, tenaga tidak!) Tidak bisa saya bayangkan, di saat-saat seperti ini, saat orang butuh uang, mereka di desa masih menjunjung tinggi semangat belas kasih, toleransi, tolong-menolong dengan tidak mau mengambil lebih dari hak mereka. “Sudah mas, ini sudah cukup. Saya sudah senang bisa menolong sampeyan supaya bisa sampai di rumah dengan selamat.” Hah? Jangankan di Jakarta, di Jogja saja belum pernah kutemui orang seperti dia. Hari ini, aku menemukan lagi satu malaikatku yang lain.

 

 

Saya yakin, menemukan orang seperti bapak ini adalah sebuah keajaiban. Di saat yang menguntungkan, ia bisa saja mengambil lebih dari hak yang bisa dia dapatkan. Tapi itu tidak dilakukannya. Ia mengambil untung tidak lebih dari yang seharusnya. Tidak kurang dan tidak lebih. Jika kurang ia tahu batas kekurangannya, jika cukup untuk modal dan keuntungan, ia tidak akan mengambil lebih dari yang seharusnya. Tapi, beda kalau ketemu Pak Polisi di jalan… hukumnya jadi seperti hukum ekonomi. Tangkap sebanyak-banyaknya untuk hasil yang lebih banyak. Atau para politikus kita. Mumpung ada kesempatan, gali emas dalam-dalam. Kata orang ini ‘aji mumpung’ dan bagi saya ‘mereka adalah orang jahat,dan anak kecilpun tahu kalau orang jahat akan menuai hasil kejahatannya. Masalahnya, banyak orang jahat menuai bukan pada saat panenan, masih hijau (padi) sudah dipanen dan dijual ijon. Jadi sebelum dipanen orang lain, ‘panen dulu ah’!

Posted by: lorensius | Juli 28, 2007

Ma… aku boleh mulai pacaran?

Terus terang saja sudah sejak lama saya ingin membaca dengan tekun majalah-majalah “for the youngsters”. Mulai dari Hai, Majalah cerpen ANITA, Majalah Kawanku yang berubah rupa dengan luar biasa, dan beberapa majalah lain yang terlupakan. Dan karena tidak pernah menyempatkan diri jadilah saya orang kuper yang enggak tahu apa-apa tentang dunia anak muda. Dan sekarang, ketika saya membuka beberapa majalah semacam itu, setelah sekian lama berevolusi, saya terkagum-kagum dengan kreatifitas anak muda yang luar biasa. Apalagi dunia sinetron kita yang menjual mimpi. Terkagum-kagum dengan ide-ide luar biasa yang menerbangkan setiap orang ke alam mimpi. Menerbangkan usia belasan tahun ke dunia orang dewasa dengan gaya hidup yang ‘totally changed’ di usia belasan. Lebih tepatnya ‘prihatin’ dengan ‘life style’ yang berubah karena ‘gambar-gambar’ dan pecahan ‘deskripsi’ hidup yang diciptakan di dunia sinetron. Jengah melihat dunia sinetron kita yang membuai ‘manusia-manusia’ berbeban berat dengan mimpi yang suatu hari ‘mungkin datang’. Tapi satu hal yang paling saya benci akhir-akhir ini.

Jengah karena tema cinta dan asmara dieksploitasi untuk anak-anak yang masih belasan. Lihatlah sekarang dunia sinetron kita: adakah cerita yang tidak dibungkus dengan drama cinta anak SMP atau SMA? Apa yang diributkan? Selalu soal asmara monyet yang tidak lebih penting daripada hidup sosial sekolah. Asmara yang diperjuangkan meski harus mengorbankan identitas diri menjadi orang lain, entah sopir, entah jadi perempuan atau jadi laki-laki, entah jadi teman bermain yang baik, entah jadi teman sekolah… Bahkan anak SD pun dijadikan objek asmara dengan menonjolkan persaingan dan perebutan. Apa ini? Sebuah pembelajaran tentang arti perjuangan cinta?

Lima tahun lalu, saya tidak pernah melihat anak-anak sekolah dengan enaknya berlenggang bergandengan tangan di depan ruang guru atau di jalan umum, tetapi sekarang… tidak pernah saya lihat mereka berani bereksploitasi dengan seksualitas mereka, tapi sekarang, dengan alasan mode, mereka berani melakukannya.

Terkadang saya berpikir ‘apakah asmara anak-anak SD dan SMP’ jadi bahan lucu-lucuan? Saya bisa tersenyum dan bahkan tertawa jika harus melihat anak-anak kecil memakai baju prom nite untuk ‘kencan’. Berdandan untuk bertemu gurunya. Cemburu untuk gurunya.

Ini cetakan untuk generasi 20 tahun mendatang? Jika benar, mari kita berharap cetakan itu rusak. Bravo untuk yang setuju dengan globalisasi tak berbentuk…

 

Betapapun, kita harus berpikir tentang pendidikan. Pendidikan adalah soal bagaimana memanusiakan manusia. Konstruksi dan definisi “manusia yang seutuhnya” adalah yang harus kita ubah. Dan nilai-nilai itulah yang perlu diinternalisasikan ke setiap otak dan hati manusia-manusia Indonesia. Dan menurut saya, sinetron-sinetron yang saya gambarakan di atas tidak cukup tepat untuk mengkomunikasikan nilai-nilai tersebut secara efektif.

Afterall, kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri. Jika sinetron-sinetron itu sukses dengan rating, hendaklah itu bisa memberi manfaat buat orang lain dan lingkungannya.

Ada yang bisa merasakan manfaatnya? Hipotesis sementara saya, pendidikan informal (dalam hal ini keluarga) masih jadi unsur terpenting untuk membentuk pribadi yang unggulan selama pemerintah belum mampu membangun sistem pendidikan yang benar-benar mumpuni. Keluarga jugalah yang jadi benteng melawan budaya instan dan pengaruh negatif lingkungan. Pengaruh 18.00-21.00 yang jauh lebih kuat daripada masa studi 7.00-13.00. Jam-jam rawan itulah yang menjadi salah satu faktor yang mendistorsi kualitas mereka sebenarnya.

 

Posted by: lorensius | Juli 26, 2007

Finally…

Si Curly Belgia

Gara-gara si Els, si curly dari Belgia, blog ini terbit. Untuk apa? Style? Boleh deh kalau dibilang begitu, tapi… sebenarnya aku butuh ruang untuk bicara bebas tanpa menunggu diterbitkan Koran atau Majalah. Udah lama tunggu belum tentu juga di cetak.. jadi kupikir ide si Curly untuk buat blog bisa bantu aku ‘keluarin’ uneg-uneg dan segalanya yang kumau. Lewat kalian semua yang berkunjung dan membaca in coming issues from me aku mau belajar dan terus mencari ‘fungsi’ blog ini.

SO? Welcome to my journey guys!

Kategori